Sedihku...
Takkan pernah usai...
Dukaku...
Takkan pernah hilang...
Meski dirimu telah jauh...
Tenanglah kau terbaring disana...
*
Sumpahku...
Terikat janjimu...
Terbawa dengan...
Semua kenangan...
Walau kau telah menutup mata...
Cahayamu sinari semua...
Reff:
Cinta yang sejati...
Kan selalu di hati...
Akan ku jaga...
Akan ku bina...
Melekat dalam jiwa...
Bayanganmu disini...
Kuratapi dan kunanti...
Berjalan hampa...
Takkan sempurna...
Kusaksikan cinta...
Langkahku...
Akan terasa sepi dan luka...
Cintamu...
Akan selalu...
Ada di hatiku...
Because when I hurt and started to removing you from my memory...
It's a same thing with removing my hopes and my dream...
Life without a dream is better than losing you
Sunday, 29 August 2010
Saturday, 28 August 2010
Ku Tak Ingin Mencintaimu...
Aku ingin semua selalu seperti ini...
Tulus dan ikhlas...
Tanpa paksaan...
Tanpa penderitaan...
Jujur ku tak ingin jauh...
Tapi ku takut untuk terlalu dekat...
Padahal bersamamu adalah hal yang indah...
Terlalu indah bahkan...
Tolong untuk tak membiarkanku melewati batasku...
Tolong berikan batasan yang pasti padaku...
Seperti menikmati indahnya kicau burung bernyanyi...
Dalam sangkar emas yang tak tertembus...
Diriku lemah...
Jika harus menjaga semuanya sendiri...
Menjaga hati seorang manusia yang tak tentu arah...
Bagaikan sebuah bibit bunga yang terbang terbawa angin...
Kumohon jangan jauh dariku...
Tapi jangan kau dekati aku...
Aku ingin tetap terus begini...
Karena kutakut jika harus mencintaimu...
Tulus dan ikhlas...
Tanpa paksaan...
Tanpa penderitaan...
Jujur ku tak ingin jauh...
Tapi ku takut untuk terlalu dekat...
Padahal bersamamu adalah hal yang indah...
Terlalu indah bahkan...
Tolong untuk tak membiarkanku melewati batasku...
Tolong berikan batasan yang pasti padaku...
Seperti menikmati indahnya kicau burung bernyanyi...
Dalam sangkar emas yang tak tertembus...
Diriku lemah...
Jika harus menjaga semuanya sendiri...
Menjaga hati seorang manusia yang tak tentu arah...
Bagaikan sebuah bibit bunga yang terbang terbawa angin...
Kumohon jangan jauh dariku...
Tapi jangan kau dekati aku...
Aku ingin tetap terus begini...
Karena kutakut jika harus mencintaimu...
Kategori :
Untaian Kata Hati
Thursday, 26 August 2010
Lelah
“TANG… TANG… TANG... CEESSSSS…”, suara tempaan besi yang memekakkan telinga sudah terdengar sedari tadi…
“Terus.Leo! Jangan menyerah” Brahm tanpa lelah menyemangatiku.
“TANG… TANG… TANG…”, tanpa berbicara, aku melanjutkan pekerjaanku.
Sudah 5 jam aku berkutik dengan besi tempaanku ini. Tapi masih saja baju zirah ini belum berbentuk. Mungkin memang aku tak berbakat dalam hal ini. Aku tak dapat bertahan dalam keadaan ini. Aku butuh istirahat.
“ Brahm…!!! Bisakah aku istirahat sebentar. Aku sudah lelah.”. teriakku pada Brahm, sekaligus berharap dengan teriakkanku, rasa lelahku menghilang.
“Jika kau meninggalkannya, maka batuan itu akan membeku dan tak bisa dibentuk lagi. Lagipula, apa yang kau bentuk itu lebih mirip lempengan penutup kuali daripada baju zirah. Ahaha…!!!”, tawa Brahm memang sungguh mengesalkan.
“Sudahlah, aku menyerah dengan menempa. Aku ingin istirahat.”, aku sudah tak kuat lagi melakukan ini. Aku langsung keluar dari ruangan itu dan menuju tempatku biasa beristirahat.
“Dasar Leo. Begitu saja sudah lelah. Apa semua manusia seperti itu?” Aku hanya mendengar samar-samar Brahm berkata seperti itu.
Aku langsung saja merebahkan diri. Lalu aku mendengar suara tempaan yang berasal dari ruang tempa. Sepertinya Brahm menyelesaikan pekerjaanku. Aku yang memang sudah tak berniat lagi memikirkan itu dengan cepat kehilangan kesadaran karena kelelahan. Hingga akhirnya aku tertidur.
.....
“LEO… LEO… CEPAT BANGUN…” Teriak Brahm panik.
“Ada apa, Brahm?”, tanyaku polos sambil mengusap-usap kedua mataku. Kurasakan tanah sedikit bergetar. Apakah ada gempa?.
“Pasukan WereAntz (siluman semut) datang. Kita harus pergi secepatnya.” Ujar brahm.
“Hah? Apa?”, aku yang masih belum sadar sepenuhnya ditarik oleh Brahm untuk meninggalkan ruangan itu.
“Brahm…!!! Aku masih lelah. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku sambil berlari dgn setengah sadar.
“Sudahlah. Kalau kau banyak bicara, kita akan mati. Nanti akan kujelaskan jika kita masih bisa selamat”, kata-kata Brahm barusan membuat bulu kudukku merinding.
Apa yang sebenarnya terjadi? Sampai-sampai Brahm yang kutahu pemberani sampai ketakutan seperti ini. Apa itu WereAntz? Siluman semut? Memang sebesar apa semut-semut itu? Brahm membawaku ke tempat penempaan dan memberikan perisai dan baju zirah itu untukku.
“Pakai ini. Mungkin saja kita akan terlibat pertempuran disana. Juga ini”, Brahm berlari kearah tempat peralatan dan mengambil pedangku dari balik tempat itu dan melemparkannya padaku,”Maaf aku menyembunyikan pedangmu. Ambil ini.”
Tepat setelah aku memakai baju zirahku, aku menangkap dan mengikatkan pedang itu di pinggang lalu terdiam karena bingung harus melakukan apa. Sementara Brahm memakai baju zirah dan mengambil kapaknya.
“Ayo kita keluar dari sini.” Ujar Brahm.
Brahm menarik tanganku, lalu berlari. Aku mengikutinya sambil terseok-seok mengimbangi laju kaki Brahm yang terlalu cepat untuk makhluk berukuran pendek seperti itu. Aku terjatuh setelah sebuah kaki meja berhasil mengait kakiku. Pedang yang harusnya bersemayam di sarung yang telah kuikat tadi terlempar jauh. Akupun berlari untuk mengambilnya. Saat ku berhasil menggenggam pedangku, Brahm berteriak padaku.
“LEO… AWAS…!!!”
.....
<{Bersambung}>
“Terus.Leo! Jangan menyerah” Brahm tanpa lelah menyemangatiku.
“TANG… TANG… TANG…”, tanpa berbicara, aku melanjutkan pekerjaanku.
Sudah 5 jam aku berkutik dengan besi tempaanku ini. Tapi masih saja baju zirah ini belum berbentuk. Mungkin memang aku tak berbakat dalam hal ini. Aku tak dapat bertahan dalam keadaan ini. Aku butuh istirahat.
“ Brahm…!!! Bisakah aku istirahat sebentar. Aku sudah lelah.”. teriakku pada Brahm, sekaligus berharap dengan teriakkanku, rasa lelahku menghilang.
“Jika kau meninggalkannya, maka batuan itu akan membeku dan tak bisa dibentuk lagi. Lagipula, apa yang kau bentuk itu lebih mirip lempengan penutup kuali daripada baju zirah. Ahaha…!!!”, tawa Brahm memang sungguh mengesalkan.
“Sudahlah, aku menyerah dengan menempa. Aku ingin istirahat.”, aku sudah tak kuat lagi melakukan ini. Aku langsung keluar dari ruangan itu dan menuju tempatku biasa beristirahat.
“Dasar Leo. Begitu saja sudah lelah. Apa semua manusia seperti itu?” Aku hanya mendengar samar-samar Brahm berkata seperti itu.
Aku langsung saja merebahkan diri. Lalu aku mendengar suara tempaan yang berasal dari ruang tempa. Sepertinya Brahm menyelesaikan pekerjaanku. Aku yang memang sudah tak berniat lagi memikirkan itu dengan cepat kehilangan kesadaran karena kelelahan. Hingga akhirnya aku tertidur.
.....
“LEO… LEO… CEPAT BANGUN…” Teriak Brahm panik.
“Ada apa, Brahm?”, tanyaku polos sambil mengusap-usap kedua mataku. Kurasakan tanah sedikit bergetar. Apakah ada gempa?.
“Pasukan WereAntz (siluman semut) datang. Kita harus pergi secepatnya.” Ujar brahm.
“Hah? Apa?”, aku yang masih belum sadar sepenuhnya ditarik oleh Brahm untuk meninggalkan ruangan itu.
“Brahm…!!! Aku masih lelah. Apa yang sebenarnya terjadi?” tanyaku sambil berlari dgn setengah sadar.
“Sudahlah. Kalau kau banyak bicara, kita akan mati. Nanti akan kujelaskan jika kita masih bisa selamat”, kata-kata Brahm barusan membuat bulu kudukku merinding.
Apa yang sebenarnya terjadi? Sampai-sampai Brahm yang kutahu pemberani sampai ketakutan seperti ini. Apa itu WereAntz? Siluman semut? Memang sebesar apa semut-semut itu? Brahm membawaku ke tempat penempaan dan memberikan perisai dan baju zirah itu untukku.
“Pakai ini. Mungkin saja kita akan terlibat pertempuran disana. Juga ini”, Brahm berlari kearah tempat peralatan dan mengambil pedangku dari balik tempat itu dan melemparkannya padaku,”Maaf aku menyembunyikan pedangmu. Ambil ini.”
Tepat setelah aku memakai baju zirahku, aku menangkap dan mengikatkan pedang itu di pinggang lalu terdiam karena bingung harus melakukan apa. Sementara Brahm memakai baju zirah dan mengambil kapaknya.
“Ayo kita keluar dari sini.” Ujar Brahm.
Brahm menarik tanganku, lalu berlari. Aku mengikutinya sambil terseok-seok mengimbangi laju kaki Brahm yang terlalu cepat untuk makhluk berukuran pendek seperti itu. Aku terjatuh setelah sebuah kaki meja berhasil mengait kakiku. Pedang yang harusnya bersemayam di sarung yang telah kuikat tadi terlempar jauh. Akupun berlari untuk mengambilnya. Saat ku berhasil menggenggam pedangku, Brahm berteriak padaku.
“LEO… AWAS…!!!”
.....
<{Bersambung}>
Kategori :
Cerita,
Ksatria yang Terlupakan
Saturday, 14 August 2010
Satu Tujuan Kita
Lama ku denganmu...
bersama jalin rasa...
Suka duka bersama...
Jadikan kita satu...
Selalu ada kamu...
Membuatku tanpa ragu...
Menyatakan rasa ini...
Jujur untukmu...
Satu tujuan kita...
Menanti mentari pagi...
Kuambilkan bulan ke pangkuanmu...
Kau jahitkan bintang di hatiku...
Satu tujuan kita...
Mencari masa depan cerah...
Hatiku hatimu...
Rasamu rasaku...
Dan bila hati menyatu...
Itulah cinta...
bersama jalin rasa...
Suka duka bersama...
Jadikan kita satu...
Selalu ada kamu...
Membuatku tanpa ragu...
Menyatakan rasa ini...
Jujur untukmu...
Satu tujuan kita...
Menanti mentari pagi...
Kuambilkan bulan ke pangkuanmu...
Kau jahitkan bintang di hatiku...
Satu tujuan kita...
Mencari masa depan cerah...
Hatiku hatimu...
Rasamu rasaku...
Dan bila hati menyatu...
Itulah cinta...
Kategori :
Untaian Kata Hati
Wednesday, 4 August 2010
Tanpa Dirimu dan Dirinya
Melupakan cinta...
Dirimu...
Dirinya...
Semua...
Karena sakitnya hati tak tertandingi...
Terasa berat menghapusnya...
Menghilangkan kenangan dirimu...
Kejadian indah antara kita berdua...
Memang sulit membuangnya...
Bayangan paras lembutnya...
Bagai bidadari langit ke tujuh...
Biarkan ku sendiri...
Tanpa cinta...
Dirimu atau dirinya...
Dirimu...
Dirinya...
Semua...
Karena sakitnya hati tak tertandingi...
Terasa berat menghapusnya...
Menghilangkan kenangan dirimu...
Kejadian indah antara kita berdua...
Memang sulit membuangnya...
Bayangan paras lembutnya...
Bagai bidadari langit ke tujuh...
Biarkan ku sendiri...
Tanpa cinta...
Dirimu atau dirinya...
Kategori :
Untaian Kata Hati
Subscribe to:
Posts (Atom)